Rokok memang tak bisa dilepaskan dari fenomena remaja. Saat itu, kami mulai belajar menjamah dan mengisap lintingan tembakau yang bisa mengepul kalo dibakar itu. Sebenernya sih itu hal yang wajar-wajar aja, Namanya juga ABG, yang lagi enjoy meregang masa pubernya. Aku termasuk salah seorang yang doyan ngerokok sejak luama. Seingetku, udah sejak aku masih pake celana pendek biru, aku mulai kenal barang sarat nikotin itu. Tapi, tau sendiri, di skolah kami gak bakalan berani ngerokok, apalagi ngeroko sambil nantangin guru BP maen smack down, wah gak bakalan deh!. Jangankan ngerokok, menyimpan rokok aja udah kayak orang yang mau nyelundupi heroin gitu. Bawaannya gak tenang melulu. Sedikit-sedikit twengok kiri-kanan, sebentar-sebentar tengok atas-bawah. Mata juga selalu mengawasai keadaan, seperti elang yang sedang mencari mangsa.
Kebiasaan itu, ternyata terus kubawa sampe jadi anak SMA. Tapi, waktu itu, kami udah mulai berani ngepul di sekolahan. Tentu saja kami harus sembunyi-sembunyi kalo gak kepengen dijaring razia satpol PP (satuan pengaman sekolah pelajar perokok, gitu kepanjangannya). di sekolah kami bertempat di jantung kota pahlawan, ada satu tempat paporit buat ngelepas hajat mengepul. Tempat itu sebenernya adalah kamar mandi cowok. Tapi, udah gak kepake.
Akhirnya ya agak kumuh gitu deh. Tembok-temboknya catnya udah luntur, sarang laba-aba juga sudah bertebaran. Cahayanya juga remang-remang kalo gak bisa dibilang gelap gulita bagai malam tanpa kilau bintang yang bersinar benderang (maaf sebenernya niatnya buat mendramatisir, tapi berlebihan sepertinya). Bahkan, kalau kami ngerti bahasa laba-laba, mungkin mereka sudah kasih peringatan ke kami, ''Jangan Ganggu DEsa kami!'' Kami juga sebenernya sering BT (Bau Tai, suer ini bener terjadi, karena kadang-kadang wc mampet) ngepul di sini. Tempat ini akhirnya kami gelari Ponten. Tapi, kami tak punya pilihan lain. Nyedot di kantin sama aja dengan nyodorin pantat sendiri ke jarum suntik yang dipegang mantri suntik hewan ternak. apalagi nyedot di ruang guru sambil nonton tipi pas jam istirahat. bisa sih sebenernya, tapi sambil ngerokok, punggung bakal merah-merah didera tabokan penggaris kayu nan keras. Kami akhirnya harus pasrah menghadapi keadaan serbaminus ini. Yang penting, tetep bisa ngepul sambil membahas pelajaran Kimia atau Fisika yang menjadi kegemaran kami (kalo yang ini hanya angan-angan, tapi tak pernah terwujud). Penduduk regulernya ya, gengku, aku, q-cheng anak kelas IPA 6, REza nan ajaib, dan Deddy. plus beberapa siswa menyimpang lainnya. Kamibiasa ngerokok di teras kamar mandi yang berbentuk kayak lorong itu.
Setiap jam istirahat tanpa dikomando atau dipaksa oleh sekompi pasukan Densus 88 antiteror, kami langsung berhamburan dari kelas menuju tempat rahasia ini. tujuannya hanya satu, smoking, smoking, smoking. Lama-lama, anak-anak kelas dua ikutan juga. Mereka akhirnya gagbung juga ama anak kelas tiga, dan nongkrong bareng.
Akhirnya, kebiasaan ini mendapat perhatian dari Wakasek Kesiswaan sekolahku yang terkenal galak. Nama aslinya Hadi, tapi anak-anak menjulukinya Gali alias galak sekali. dia adalah komandan GPK (gerakan perusuh kelas). Layaknya, seorang detektif yang lagi melakukan investigasi kasus pembunuhan pawang harimau terkenal, bErhari-hari lamanya, dia mengarahkan pandangan ke arah kamar mandi superjorok yang terletak di pojok kelas yang berimpit. Aku sih cuma berpikir, itu biasa aja. Mungkin akhir-akhir ini dia lagi hobi aja. Meninggalkan hobi lamanya, berkuda sambil salto di halaman sekolah waktu jam istirahat (nggak lah, masak guru hobinya seperti itu. Paling juga memelihara burung berkicau di akuarium lumba-lumba, hehehe....).
Suatu hari, waktu istirahat, hasrat hati pengen langsung melayangkan langkah ke sudut kumuh nan indah itu. Tapi, gak tau kenapa, ada aja yang mneghadang niat itu. begitu keluar dari kelas, langsung aku tiba-tiba pengen beli jamu dulu di depan. Terus, aku ditarik anak-anak pramuka nbuat nongkrong bentar di sanggar mereka, waktu aku udah memantapkan hati ke KM jorok itu, aku berpikir buat ngajak teman-teman yang biasa nemenin aku. Tapi, mereka malah cengengsan sambil main kuda lumping di depan kelas mereka. ''Lho kenopo gak nang ponten?''
''Bahaya pak nang kono, arek kelas loro kenek kabeh, saiki nang kantor. Aku gak sido rono,'' jawab chenk dengan muka tanpa ekspresi seperti biasanya. Tiba-tiba, topan, temen sekelas Chenk nyeletuk, ''Iyo pak, mau aku boker nang ponten (ternyata ada yang tega boker di tempat ginian). Trus gali mlebu, ngonangi arek-arek kelas loro. Terus digowo nang kantor ambek dikaploki. Untung aku gak ketemon, padahal aku yo ngrokok ambek ngi*****sing (maaf sensor tidak tepat pada sasaran),'' katanya berapi-api. Topan menambahkan, tadi Gali cuma tanya, siapa di WC, dan setelah dijawab ''Topan Pak..,'' gali lalu ngeloyor pergi sambil menggelandang tangkapannya. Beruntung, hari itu aku absen, Kalau tidak, wah bisa celaka. Nama baikku sebagai pelajar pasti dipertaruhkan. Semoga ini bisa jadi pelajaran, Kalo mau ngerokok di kamar mandi, sekalian masuk aja. Seperti yang udah dicotohin ma topan.
Rabu, 12 November 2008
Minggu, 02 November 2008
Milo Rasa Pel
Ini adalah lanjutan dari tulisanku soal my best buddy. DAn, kayak judulnya, post kali ini berhubungan sama minuman.
Aku udah kelas dua. Masa dimana anak-anak SMA lagi suka bikin eksperimen tentang segala macam sesuatu tanpa berpikir lebih dulu. Kami masuk di kelas 2-7. Kelas dimana para risidivis, ,bandit, buronan, perusuh, dan pesuruh sekolah berkumpul, berkomplot, bersekongkol, dan berserikat demi kekacauan bersama.
Seperti layaknya sepasang sahabat yang saling menyayangi dalam suka dan dusta, kami duduk sebangku. Sebagai warga kelas yang baik dan benar, kami juga selalu mendukung usaha temen-temen yang hobi memporakporandakan dunia pendidikan. Seperti maen petasan waktu pelajaran, ngegodain guru kesenian, ngerokok di kelas waktu ada guru, dan bikin nangis para pahlawan tanpa tanda jasa. Aku sendiri sudah bikin nangis tiga guru, padahal, ibu ku sendiri guru lho (keren kan, siapa bisa kayak aku!). Memang, sungguh kejam dunia pendidikan di negara kita.
Ok kawan-kawan cyberku. kembali ke cerita awal. Suatu hari, aku gak inget kenapa, aku masuk sekolah pagi-pagi banget. Kemungkinan besar, waktu itu aku lagi mau nyontek peernya anak-anak cewek. Trus, aku langsung duduk di bangkuku nan indah berseri. Waktu itu, aku demen banget bawa minum ke skul. Menu hari itu adalah es Milo di masak dengan bumbu tauco (gak kok, cuman milo ma es batu ditambah air aja, gak pake pasir segala, apalagi minyak goreng). Begitu aku sampe kelas, aku langsung naruh tasku di kursi. Dasar gak mikir, Miloku tercinta yang aku taro dalem tupper, aku masukin ke kolong bangku. TErang aja langsung tumplek blek. Luberan aer Milo sampe menggenang di bawah kursi dan bangku. Karena kelasku deket mesjid, langung aja aku gerak cepat ke km mesjid buat ambil kain pel. Sejurus kemudian, dengan gerakan tanpa bayangan aku ngelap bersih tumpahan miloku yg malang itu. Ingin rasanya kutangisi Miloku yang tumpah, dan berteriak mengutuk ketidakadilan yg menimpaku. Tapi, kok rasanya itu berlebihan ya...Lalu, aku masukin tumpahan milo itu kembali ke dalam tupper, trus, aku kembali ke masjid buat ngembaliin kain pel. Lalu, terjadilah peristiwa yang menghenyakkan jiwa, dan menegakkan bulu kuduk. kawan baikku yg baru datang, ternyata njoy aja tanpa beban dan dengan brutalnya nyeruput Miloku yang udah rasa kain pel bgt. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya tertegun, dengan liur menetes, dan tubuh terguncang. Spontan aku teriak, ''Lho..., itu kan...,'' seruku sambil nunjuk temenku yang makin biadab aja meminum Milo yang udah terkontaminasi itu. ''Itu kan udah tumpah, terus aku pel, aku masukin ke tupper,'' teriakku ke dia sambil meloncat menerjang tubuhnya. Tapi, semua terlambat, sia-sia tak berarti. Nasi sudah menjadi bubur ayam. Dia malah bilang, ''Ah.., kamu bohong . Kamu pelit kan, gak mau kasih aku milo mu,'' dengan ekspresi santai tanpa beban dan perasaan. Waktu temen-teman cewek pada ketawa ngakak, baru, dia sadar, something's wrong. Dia baru yakin kalau yang diminumnya adalah barang yang sudah terkena radiasi kainus pelus jijayus. Lalu, secepat buron BLBI, dia ngibrit ke kantin diiringi tawa meledak anak-anak yg tau kejadian membanggakan itu. Meski melakukan perbuatan yang cukup nista. tapi, setidaknya dia udah buktiin, dia adalah orang yang sangat sehat, dengan sistem imun tubuh dan imun rasa malu yang bekerja dengan sempurna.
Aku udah kelas dua. Masa dimana anak-anak SMA lagi suka bikin eksperimen tentang segala macam sesuatu tanpa berpikir lebih dulu. Kami masuk di kelas 2-7. Kelas dimana para risidivis, ,bandit, buronan, perusuh, dan pesuruh sekolah berkumpul, berkomplot, bersekongkol, dan berserikat demi kekacauan bersama.
Seperti layaknya sepasang sahabat yang saling menyayangi dalam suka dan dusta, kami duduk sebangku. Sebagai warga kelas yang baik dan benar, kami juga selalu mendukung usaha temen-temen yang hobi memporakporandakan dunia pendidikan. Seperti maen petasan waktu pelajaran, ngegodain guru kesenian, ngerokok di kelas waktu ada guru, dan bikin nangis para pahlawan tanpa tanda jasa. Aku sendiri sudah bikin nangis tiga guru, padahal, ibu ku sendiri guru lho (keren kan, siapa bisa kayak aku!). Memang, sungguh kejam dunia pendidikan di negara kita.
Ok kawan-kawan cyberku. kembali ke cerita awal. Suatu hari, aku gak inget kenapa, aku masuk sekolah pagi-pagi banget. Kemungkinan besar, waktu itu aku lagi mau nyontek peernya anak-anak cewek. Trus, aku langsung duduk di bangkuku nan indah berseri. Waktu itu, aku demen banget bawa minum ke skul. Menu hari itu adalah es Milo di masak dengan bumbu tauco (gak kok, cuman milo ma es batu ditambah air aja, gak pake pasir segala, apalagi minyak goreng). Begitu aku sampe kelas, aku langsung naruh tasku di kursi. Dasar gak mikir, Miloku tercinta yang aku taro dalem tupper, aku masukin ke kolong bangku. TErang aja langsung tumplek blek. Luberan aer Milo sampe menggenang di bawah kursi dan bangku. Karena kelasku deket mesjid, langung aja aku gerak cepat ke km mesjid buat ambil kain pel. Sejurus kemudian, dengan gerakan tanpa bayangan aku ngelap bersih tumpahan miloku yg malang itu. Ingin rasanya kutangisi Miloku yang tumpah, dan berteriak mengutuk ketidakadilan yg menimpaku. Tapi, kok rasanya itu berlebihan ya...Lalu, aku masukin tumpahan milo itu kembali ke dalam tupper, trus, aku kembali ke masjid buat ngembaliin kain pel. Lalu, terjadilah peristiwa yang menghenyakkan jiwa, dan menegakkan bulu kuduk. kawan baikku yg baru datang, ternyata njoy aja tanpa beban dan dengan brutalnya nyeruput Miloku yang udah rasa kain pel bgt. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya tertegun, dengan liur menetes, dan tubuh terguncang. Spontan aku teriak, ''Lho..., itu kan...,'' seruku sambil nunjuk temenku yang makin biadab aja meminum Milo yang udah terkontaminasi itu. ''Itu kan udah tumpah, terus aku pel, aku masukin ke tupper,'' teriakku ke dia sambil meloncat menerjang tubuhnya. Tapi, semua terlambat, sia-sia tak berarti. Nasi sudah menjadi bubur ayam. Dia malah bilang, ''Ah.., kamu bohong . Kamu pelit kan, gak mau kasih aku milo mu,'' dengan ekspresi santai tanpa beban dan perasaan. Waktu temen-teman cewek pada ketawa ngakak, baru, dia sadar, something's wrong. Dia baru yakin kalau yang diminumnya adalah barang yang sudah terkena radiasi kainus pelus jijayus. Lalu, secepat buron BLBI, dia ngibrit ke kantin diiringi tawa meledak anak-anak yg tau kejadian membanggakan itu. Meski melakukan perbuatan yang cukup nista. tapi, setidaknya dia udah buktiin, dia adalah orang yang sangat sehat, dengan sistem imun tubuh dan imun rasa malu yang bekerja dengan sempurna.
Langganan:
Postingan (Atom)
