Masih di jaman Putih-abu abu dulu. Bagi kawan sebangkuku yang lucu, dan suka cuci baju sambil bertinju, dunia sekolah mungkin terasa tak adil. Tapi, dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan himpitan. Dari yang dulunya tidur beralas tikar bareng tikus dan ular (ini beneran!), sekarang melenggang di apartemen mewah di Negeri Sakura. Untuk melindungi reputasinya sebagai seorang progamer handal kualitas ekspor, namanya hanya akan disebut Mr. X+y=n? wah sprtnya terlalu rumit. ya udah dipanggil Reza aja. tapi jangan itu kan nama aslinya. Kalo gitu, mending disebut Kumbang aja (soalnya dia co, kalo ce pasti bunga).
Sebenernya dia bukan loser, tp kelakuannya seringkali aneh bin superduper veryvery ajaib. Selain itu, aku juga bakal menceritakan tentang geng ku di masa lalu yang mengbinspirasiku samapi saat ini. Mumpung lagi demam laskar pewangi, sori, maksudnya laskar pelangi, semoga cerita ini bisa menginspirasi orang-orang di luar sana yang merasa jadi loser bin minder. Jangan menyerah, keterbatasan adalah batas yang harus didobrak! Mulai sekarang, ini akan diceritakan bersambung dengan format .JPG. Tapi, di tengah jalan, kemungkinan cerita ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai mood dan nilai tukar dolar terhadap Rupiah...
Part one:
Aku kenal dia pas kelas 1 SMA di SMA 6 Sby. Itu kejadiannya udah 11 taon lalu. Saat itu, diriku masih imut dan tampan tiada tandingan. Sekarang.... Ya, semakin guanteng aja lah. Pertama ketemu dia pas MOS (masanya orang susah. Soalnya dibentakin terus seminggu penuh tanpa ampun!). dia sekelas ma aku di kelas pojok deket kamar mandi, pertama liat dia, kayaknya amazing banget. Kalo kamu dulu sering liat Discovery Channel di TPI, itu mirip pertemuan Rob Bredel atau Steve Irwin dengan buaya darat air tawar pemakan tumbuhan, dan mereka nyeletuk, ''Wah, cantik sekali hewan ini,'' hehehee... Anaknya ceking, pake kacamata miring sebelah, bajunya asli tak tersentuh setrika yang mondar-mandir, dan celananya kedodoran. Sepatu pun bagian blakangnya diinjak. But, that's ok. Setelah kenal, anaknya asik jg sich. Dia baik dan penuh sopan santun. Buktinya, dia gak pernah godain nenek-nenek yang lagi striptis di zebra cross. Atau, menjitak jidat kepala sekolah dari belakang sambil melakukan pemboman bunuh diri. Suer!! Kita jadi akrab karena sama-sama berasal dari sekolah pinggiran (bahasa kerennya di daerah suburban gitu), meskipun sekolahku lebih minggir dari dia. SAmpai-sampai jaman dulu ada yang bilang SMP ku adalah sekolah mewah, alias mepet sawah. Sementara, temen-temen skul lainnya kebanyakan anaknya orang kaya raya. Kalau kita sih cukup orang yang kaya rayap.
DAn, Sekolah ternyata memang lah sawah bagi kami para kumbang untuk mencari lebah betina. Reza dan aku pun demikian sodara-sodara. MOS yang cuma seminggu udah cukup buat kami menentukan sasaran, menggambar koordinat, dan mengeksekusinya dengan artileri cinta monyet. Ceritanya, aku yang maju duluan ke garis depan dengan berbekal doa dan muka tembok. Setelah mencari kesempatan bareng cewek inceranku, dengan latar belakang anak-anak yang lagi pada main voli pantai di dalem kelas, aku tumpahkan rasa di jiwa kepada seorang dara nan jelita. Anakny putih, manis, dengan 12 lesung pipit di wajahnya (yg ini asli becanda). Sebut aja nama cewek gambaranku ini Rafflesia Arnoldi (abis, mawar atau melati udah terlalu sering banget sekali). ''Arnold (kependekan dari Arnoldi. Tapi, kok malah jadi serem ya! seperti lagi ngerayu cowok. Hiii, kayak Rian donk)..., seminggu terakhir dirimu begitu mempesona hatiku. Saat memandang wajahmu, rasanya aku menemukan oase nan sejuk di dekat air terjun'' rayuku dengan ilmu yang didapatkan Jin Galon, setelah bertapa di pinggir kalimas selama 1x24 jam (soalnya kalo lebih dari itu harus lapor pak RT dulu. Repot). Akhirnya kata-kata ajaib itu pun meluncur dari mulutku begitu saja. ''Aku suka kamu, mau nggak jadi pacarku?'' Bukannya reaksi terkejut atau terhenyak. Kaget, terperanjat, tersanjung, terpana, atau terpidana. Dia malah senyum cekikikan sesudah aku ngomong perasaanku. Hihihihihi.... (seingatku, senyumnya waktu itu mirip Suzana di pilem Guna-Guna Istri Muda). Aku yang diketawain, dalam hati cuman mengutuk dan bilang, ''Wah kok diketawain, ini serius. Masalah perasaan ini. Emang aku tukul arwana diketawain,'' rutukku dalam hati. Setelah ketawa, cewek itu langsung aja ngeloyor pergi tanpa meninggalkan sekantong emas pun. Dan, seperti kebiasaan klasik sejak zaman batu, cewek setelah ditembak, dia minta waktu biar terkesan gak gampangan gitu maksudnye. Kupikir seminggu atau lebih, Ternyata, dugaanku meleset 180 derajat kali cosinus 4 akar lima, ''Nanti istirahat kedua aku jawab ya,'' katanya dengan suara tujuh oktaf. Setelah dua jam menanti, rasanya jantungku mau copot, dan hatiku mau transplantasi, akhirnya kami ketemu di depan kelas mata pelajaran teknik kuncian gulat. Dia pun menjawab dengan jawaban singkat dan meyakinkan. Wajahnya pun tampak tenang tanpa beban. Aku bersyukur, ternyata dia masih sadar. Dia bilang, ''maaf ya, aku cuman nganggep kamu temennya keponakan kakak sepupu temenku.'' Sedih hatiku denger jawaban kayak gitu. Rasanya seperti kesamber gledekan. RASanya seperti udah seminggu gak makan bebek goreng. pokoknya menyedihkan, melebihi dari sedihnya orang yang gagal cari utangan di tengah hutan. Tapi, apa mau dikata, membaca saja aku sulit... (dengan ekspresi termenanung di pinggiran jendela sambil pegang kepala). KArena aku gak mau jadi korban penolakan sendirian, aku memberi semangat REza untuk nembak gebetannya. Targetnya adalah, seorang makhluk manis dan putih, dengan rambut kriting, suka mengerling, serta berguling-guling sambil minum softdrink. Namanya Leea. REza yg awalnya gak pede dengan penampakkan visualnya, akhirnya menjadi tidak percaya diri (sama aja donk). Tapi, dia pun menjelma jadi penjuang asmara sejati. Sebelum berangkat ke medan perang dia tak lupa mampir ke musola untuk sembayang. ''Aku siap sekarang,'' gitu katanya kepadaku dengan mantap. Sambil nyengir-nyengir kuda lumping makan beling, aku menepuk-nepuk pundaknya dengan hangat. Seakan-akan berkata, ''Selamat berjuang kawanku, semoga kamu ditolak juga, seperti aku,heheheh...'' Penembakan pun dilancarkan dengan mulus. Dengan jurus bangau mematok mangsa, dia langsung menukik ke sasarannya tanpa ampun. Tak kalah sakti, sang sasaran pun membalas dengan jurus yang bikin dia terkapar dalam sekali colek. Padahal, dia cuman bilang. ''Sori ya, ur not my type (seingatku sih bilang gitu),'' Dengan gontai tapi santai, dia menemuiku di kantin skul sambil menyantap sepiring nasi pecel yang masih ngutang, dan es teh rampasan. Sekali lagi, kucoba menenangkannya seperti seorang motivator yang sedang berorasi di depan petani tebu yang bangkrut karena lahannya terkena bom bunuh diri Amrozi cs. ''Rez, tenang aja, masih banyak cewek di dunia yang bisa dikejar dan dimiliki,'' hiburku dengan perasaan penuh kepuasan...(end part one)

3 komentar:
waduh nar ternyata kamu cukup produktif ya, tulisanmu juga bagus walaupun tidak sebagus orangnya. keep posting man
terimakasih, kawan
setidaknya ini memberiku semangat untuk tetap berkarya di tengah himpitan krisis.
dinar..
hanya satu kata..
gendeng, edan, sinting (eh kok lbh dr satu ya?? yawes sisanya anggep aja bonus.. :D)
eh, aku heran..
dg gaya menulismu yg krg kerjaan ini kok km mlh jd kuli di media penerbitan itu ya??
jd penulis aja nar..bersaing ma si mas kambing jantan :D
Posting Komentar