Tapi, semua harapan ternyata hanya hampa belaka. Keinginan kita untuk terlelap dalam buaian hawa nan sejuk, harus diganti dengan tonjokan angin malam yang menerjang tanpa amun dari jendela bus yang sebenarnya sudah layak dimasukkan ke Muri (Museum Rombeng Indonesia. hehehe...). Ya, bus patas yang kami dambakan dan inginkan ternyata sudah habis. ''Wah, Nar, bus patasnya sudah habis. Terpaksa kita naik yang biasa aja,'' keluh Ernest, wartawan JTV yang potongan rambutnya mirip Ariel Peterpan yang baru dicukur di tempat penjagalan hewan. Permukaan bangkunya yang berlobang di sana sini dengan busa berlompatan, aku langsung membayangkan perjalanan brutal nan panjang dan melelahkan. Kami tunggu kira-kira satu jam, setelah sekitar seratus pedagang buah, pengamen, tukang jual korek, dan anak gawang (lho, kok yang ini ikutan juga) berseliweran di koridor bus yang kira-kira lebarnya hanya setengah meter, akhirnya pak sopir duduk manis di kokpit dan siap lepas amblas.
Ohiya, sebelum bus meluncur di orbitnya, Ernest masih sempat membeli sesuatu untuk oleh-oleh keponakannya yang baru masuk playgroup. dan, itu adalah, pisau yang katanya stainless steel mbikinan njepang, yang sebilah harganya dua rebu maratus. Memang, dia adalah om yang sangat prhatian akan keselamatan keponakannya yang suka pake pake pita itu.
Akhirnya petualangan bagaikan cowboy di alam barat nan liar kami mulai dari sini. awalnya, bus melaju dengan kecepatan manis manja bin ajaib. Kami yang berimpitan di bangku belakang tetap tenang. Tapi, kekuatan sejati bus itu baru tampak ketika sudah melaju di jalanan luar Kota Pahlawan. Sang sopir dengan sadis memerkosa kemudi dan menggencet pedal gas sampai mentok. Dengan suspensi yang superduper keras. Kami serasa di banting tanpa kasih sayang ke sana kemari. Tapi, kantuk juga yang akhirnya memaksa kami berkompromi dengan kemalangan di malam minggu ini. rasa kebelet pipis pun diam-diam terbang berganti dengan bayangan buaian mimpi. fotograferku, angger, alih-alih tersiksa tidur dengan kepala miring, malah langsung ngorok begitu pak sopir menjalankan bus.
Mungkin, sopir bus ini mantan pembalap jalanan yang berjiwa seorang pembom berani mati. dia melajukan bus secepat kilat ekspres. Nyalinya juga top. Biar bawa bus yang guede, dia berani lo main salip sana sini, tanpa peduli keselamatan penumpang. Berkat penampilan sang sopir yang sangat cekatan di belakang kemudi, Surabaya-kudus hanya dijelajahi dalam waktu 5 jam saja. Kami diturunkan di depan terminal Kudus jam 6 pas. Dengan mata berkaca-kaca, dan tampang trendi, kami terbengong-bengong di depan terminal. Kami tak tahu harus kemana, karena memang tak ada arah yang dituju. Penderitaanku, trasa lebih menyiksa daripada anak-anak lainnya. HIV (hasrat ingin vivis) yang sudah bergejolak di dalam jiwa belum bisa tersalurkan. Apesnya lagi, kamar mandi di dalam terminal masih dikunci. Akhirnya, dengan keberanian yang tinggi, aku pun pipis di udara terbuka, di mana dedaunan menjadi alasnya.
dEngan informasi secukupnya, akhirnya kami berjalan kaki menuju hotel tempat persebaya menginap. begitu indah rasanya perjalanan pagi itu, dengan punggung pegal dan mata merah yang berair menyertainya. hiks...hiks... Sampai di hotel, ternyata, kamar sudah penuh. Jadilah, kami gelandangan di kota kretek ini. beruntung cak mat mau menampung kami, dan akhirnya dipindah ke kamar manajer persebaya. kini biarkan kami tidur pulas sebelum kembali menghadapi cobaa hidup. But it;s ok cause we're bonek journalist...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar