Minggu, 26 Oktober 2008

Laskar Pewangi

Dunia bagi sebagian orang penuh makna, canda, tawa, dan bahagia. Bagi orang lain, dunia adalah mara bahaya, penuh nista, dan tanda bahaya. Sementara bagi orang lain, dunia berarti penggabungan antara kedua kutub berlawanan tersebut.

Masih di jaman Putih-abu abu dulu. Bagi kawan sebangkuku yang lucu, dan suka cuci baju sambil bertinju, dunia sekolah mungkin terasa tak adil. Tapi, dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan himpitan. Dari yang dulunya tidur beralas tikar bareng tikus dan ular (ini beneran!), sekarang melenggang di apartemen mewah di Negeri Sakura. Untuk melindungi reputasinya sebagai seorang progamer handal kualitas ekspor, namanya hanya akan disebut Mr. X+y=n? wah sprtnya terlalu rumit. ya udah dipanggil Reza aja. tapi jangan itu kan nama aslinya. Kalo gitu, mending disebut Kumbang aja (soalnya dia co, kalo ce pasti bunga).
Sebenernya dia bukan loser, tp kelakuannya seringkali aneh bin superduper veryvery ajaib. Selain itu, aku juga bakal menceritakan tentang geng ku di masa lalu yang mengbinspirasiku samapi saat ini. Mumpung lagi demam laskar pewangi, sori, maksudnya laskar pelangi, semoga cerita ini bisa menginspirasi orang-orang di luar sana yang merasa jadi loser bin minder. Jangan menyerah, keterbatasan adalah batas yang harus didobrak! Mulai sekarang, ini akan diceritakan bersambung dengan format .JPG. Tapi, di tengah jalan, kemungkinan cerita ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai mood dan nilai tukar dolar terhadap Rupiah...


Part one:

Aku kenal dia pas kelas 1 SMA di SMA 6 Sby. Itu kejadiannya udah 11 taon lalu. Saat itu, diriku masih imut dan tampan tiada tandingan. Sekarang.... Ya, semakin guanteng aja lah. Pertama ketemu dia pas MOS (masanya orang susah. Soalnya dibentakin terus seminggu penuh tanpa ampun!). dia sekelas ma aku di kelas pojok deket kamar mandi, pertama liat dia, kayaknya amazing banget. Kalo kamu dulu sering liat Discovery Channel di TPI, itu mirip pertemuan Rob Bredel atau Steve Irwin dengan buaya darat air tawar pemakan tumbuhan, dan mereka nyeletuk, ''Wah, cantik sekali hewan ini,'' hehehee... Anaknya ceking, pake kacamata miring sebelah, bajunya asli tak tersentuh setrika yang mondar-mandir, dan celananya kedodoran. Sepatu pun bagian blakangnya diinjak. But, that's ok. Setelah kenal, anaknya asik jg sich. Dia baik dan penuh sopan santun. Buktinya, dia gak pernah godain nenek-nenek yang lagi striptis di zebra cross. Atau, menjitak jidat kepala sekolah dari belakang sambil melakukan pemboman bunuh diri. Suer!! Kita jadi akrab karena sama-sama berasal dari sekolah pinggiran (bahasa kerennya di daerah suburban gitu), meskipun sekolahku lebih minggir dari dia. SAmpai-sampai jaman dulu ada yang bilang SMP ku adalah sekolah mewah, alias mepet sawah. Sementara, temen-temen skul lainnya kebanyakan anaknya orang kaya raya. Kalau kita sih cukup orang yang kaya rayap.

DAn, Sekolah ternyata memang lah sawah bagi kami para kumbang untuk mencari lebah betina. Reza dan aku pun demikian sodara-sodara. MOS yang cuma seminggu udah cukup buat kami menentukan sasaran, menggambar koordinat, dan mengeksekusinya dengan artileri cinta monyet. Ceritanya, aku yang maju duluan ke garis depan dengan berbekal doa dan muka tembok. Setelah mencari kesempatan bareng cewek inceranku, dengan latar belakang anak-anak yang lagi pada main voli pantai di dalem kelas, aku tumpahkan rasa di jiwa kepada seorang dara nan jelita. Anakny putih, manis, dengan 12 lesung pipit di wajahnya (yg ini asli becanda). Sebut aja nama cewek gambaranku ini Rafflesia Arnoldi (abis, mawar atau melati udah terlalu sering banget sekali). ''Arnold (kependekan dari Arnoldi. Tapi, kok malah jadi serem ya! seperti lagi ngerayu cowok. Hiii, kayak Rian donk)..., seminggu terakhir dirimu begitu mempesona hatiku. Saat memandang wajahmu, rasanya aku menemukan oase nan sejuk di dekat air terjun'' rayuku dengan ilmu yang didapatkan Jin Galon, setelah bertapa di pinggir kalimas selama 1x24 jam (soalnya kalo lebih dari itu harus lapor pak RT dulu. Repot). Akhirnya kata-kata ajaib itu pun meluncur dari mulutku begitu saja. ''Aku suka kamu, mau nggak jadi pacarku?'' Bukannya reaksi terkejut atau terhenyak. Kaget, terperanjat, tersanjung, terpana, atau terpidana. Dia malah senyum cekikikan sesudah aku ngomong perasaanku. Hihihihihi.... (seingatku, senyumnya waktu itu mirip Suzana di pilem Guna-Guna Istri Muda). Aku yang diketawain, dalam hati cuman mengutuk dan bilang, ''Wah kok diketawain, ini serius. Masalah perasaan ini. Emang aku tukul arwana diketawain,'' rutukku dalam hati. Setelah ketawa, cewek itu langsung aja ngeloyor pergi tanpa meninggalkan sekantong emas pun. Dan, seperti kebiasaan klasik sejak zaman batu, cewek setelah ditembak, dia minta waktu biar terkesan gak gampangan gitu maksudnye. Kupikir seminggu atau lebih, Ternyata, dugaanku meleset 180 derajat kali cosinus 4 akar lima, ''Nanti istirahat kedua aku jawab ya,'' katanya dengan suara tujuh oktaf. Setelah dua jam menanti, rasanya jantungku mau copot, dan hatiku mau transplantasi, akhirnya kami ketemu di depan kelas mata pelajaran teknik kuncian gulat. Dia pun menjawab dengan jawaban singkat dan meyakinkan. Wajahnya pun tampak tenang tanpa beban. Aku bersyukur, ternyata dia masih sadar. Dia bilang, ''maaf ya, aku cuman nganggep kamu temennya keponakan kakak sepupu temenku.'' Sedih hatiku denger jawaban kayak gitu. Rasanya seperti kesamber gledekan. RASanya seperti udah seminggu gak makan bebek goreng. pokoknya menyedihkan, melebihi dari sedihnya orang yang gagal cari utangan di tengah hutan. Tapi, apa mau dikata, membaca saja aku sulit... (dengan ekspresi termenanung di pinggiran jendela sambil pegang kepala). KArena aku gak mau jadi korban penolakan sendirian, aku memberi semangat REza untuk nembak gebetannya. Targetnya adalah, seorang makhluk manis dan putih, dengan rambut kriting, suka mengerling, serta berguling-guling sambil minum softdrink. Namanya Leea. REza yg awalnya gak pede dengan penampakkan visualnya, akhirnya menjadi tidak percaya diri (sama aja donk). Tapi, dia pun menjelma jadi penjuang asmara sejati. Sebelum berangkat ke medan perang dia tak lupa mampir ke musola untuk sembayang. ''Aku siap sekarang,'' gitu katanya kepadaku dengan mantap. Sambil nyengir-nyengir kuda lumping makan beling, aku menepuk-nepuk pundaknya dengan hangat. Seakan-akan berkata, ''Selamat berjuang kawanku, semoga kamu ditolak juga, seperti aku,heheheh...'' Penembakan pun dilancarkan dengan mulus. Dengan jurus bangau mematok mangsa, dia langsung menukik ke sasarannya tanpa ampun. Tak kalah sakti, sang sasaran pun membalas dengan jurus yang bikin dia terkapar dalam sekali colek. Padahal, dia cuman bilang. ''Sori ya, ur not my type (seingatku sih bilang gitu),'' Dengan gontai tapi santai, dia menemuiku di kantin skul sambil menyantap sepiring nasi pecel yang masih ngutang, dan es teh rampasan. Sekali lagi, kucoba menenangkannya seperti seorang motivator yang sedang berorasi di depan petani tebu yang bangkrut karena lahannya terkena bom bunuh diri Amrozi cs. ''Rez, tenang aja, masih banyak cewek di dunia yang bisa dikejar dan dimiliki,'' hiburku dengan perasaan penuh kepuasan...(end part one)

Rabu, 22 Oktober 2008

High School MAdness

Mercon and Ketek I
nget jaman sekolah dulu. Kami adalah adalah putra-putri harapan bangsa yang sangat kreatif dan inovatif. Termasuk dalam hal ngerjain guru dan memelihara kekacauan sekolah.Ceritanya begini. Suatu hari ketika matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat di tahun 1999, ketika aku masih kelas 2 SMA, pas bulan puasa. Bagi kamu waktu itu, gak keren kalo bulan puasa gak ada sedikit keramaian yang dihasilkan dari sinkronisai bubuk peledak dan sumbu yang terbakar yang disebut mercon. Kami adalah para ahli bahan peledak amatir yg sma sekali gak bercita2 jadi anggota tim Gegana. "Kapten, sudah siap semua artilerinya. Tinggal menunggu perintah,” kata Sersan Boy yg menjabat Kepala Logistig Bidang Petasan.
”Mari kita laksanakan misi ini. May God Speed (semoga Tuhan Punya Kecepatan),” jawab Letnan Ahmed yang menjabat Manajer Operasional kekacauan dan keorakporandaan sekolah.
Ktika Jam istirahat tiba pada pukul 9 kuadrat akar pangkat 3, misi itu dilaksanakan, dengan sandi Seek and Destroy Oh Yes
Dhuar!!!!, Doorrr!!!.”Bunyi mercon terdengar bersahutan saudara. Kami melaporkan dari sebuah sekolah di tengah kota Surabaya,” kata seorang reporter TV Al Jazeera yang baru dikirim ke Afghanistan. Ya, tak lama setelah kami membuka serangan, brigade kelas sebelah membalas dengan meluncurkan artileri semi permanen seukuran rokok Dji Sam Soe versi orisinil.
Walhasil, guru-guru pada kewalahan. Tp mrk gak tgl diam. Mereka menugaskan seorang guru yang sangat handal dalam mengurus aksi sporadis segerombolan penjahat puber. Dia adalah pemimpin pasukan komando guru sekolah yang sangat bengis (kebelet ngising, ooops kelepasan), dan mantan anggota KGB (Kelompok Gemar Belajar). Dia adalah guru yang killer bin juahat, sampe dapat julukan Gali, alias galak sekalee. Tingginya sekitar 1/4 kali Yao Ming, dengan kulit yang sedikit over pigmented. Dengan penuh nyali, dia masuk ke tengah medan peperangan. Sejurus kemudia, dia sampe di kelasku yang jadi garis depan pertempuran. Tiba2 dia teriak, ”Saya tahu, di kelas ini ada yang main mercon.” ”Untuk membuktikannya, saya akan mencium tangan anak-anak cowok satu2,” ancamnya. Dan, dia membuktikannya. Sontak, anak2 yg pada maen mercon pd kelimpungan. Tp, mrk ud pny akal msng2 utk menyamarkan bau bubuk petasn yg khas itu. ”Change to Plan B and C, or D,” seru Letnan Ahmed kepada anggota kompinya. Stlh mencium 1-1, tb giliran tangan seorang prajurit berpangkat Bripka (Berdiri Pake Kepala (sirkus kalee)), namanya Upri.Dia menerjemahakn instruksi sang komandan dengan masukin tgnnya k dlm kaos kaki, lalu ke ketiaknya.
Setelah mencium bau najis nan terkutuk itu, si Gali langsung kelenger dan mengumpat. ”Pri…, tgnmu kok baunya aneh, spt ketiak,” teriaknya spontan. Anehnya, si Gali tetep gak nyadar, kalo bau yg barusan dia endus memang origanlly ketek’s smell. Tp, ank2 di kelas pd diem aje, menjaga agar misi top secret ini gak terbongkar. DAn, setelah Gali take off dari kelas, tawa anak2 meledak. ”Huahahahahaha….., kita berhasil memukul telak guru ter-killer in the school.” Upri, the Ketekman cuma cengengesan lalu nyeletuk. ”Habisnya aku bingung tadi, ya udah aku masukan ke ketiak ma kaos kaki aja tanganku,” katanya dengan nada dasar C Menor. Kalo aku sih aman2 aja. Soalnya tanganku bau wangi. Bukannya habis mandi pake sabun wangi, tapi tadi waktu dirazia, aku sukses merampas parfum dagangan temen cewek di belakangku. Well. sepertinya KArma emang ada. Sekarang, Upri mengikuti jejak gali menjadi guru di sebuah SD. Semoga Tuhan tidak memberinya murid seperti dirinya dulu. Amin.

Sabtu, 18 Oktober 2008

wartawan bonek

Seperti biasa, tugas ke luar kota ikut tur PErsebaya. Kali ini, aku berangkat ke Kudus. aku janjian ama wartawan JTV, dan berita Jatim untuk berangkat dari Surabaya jam 11 malem. Tapi, seperti biasa masih mbulet aja gtloh! akhirnya, setelah menunggu taxi di depan graha pena sampai mata bernanah, dan mulut berliur, seonggok taxi baru menampakkan diri. Itu pun kami harus nyeberang dulu sampai di depan IAIN. Sudah kayak orang mau mudik aja. Biar cuma empat ekor, bawaan kita banyak banget. Setelah menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju dengan kecepatan ultrasonik, akhirnya kami sampai di terminal bus Bungurasih setngah jam kemudian. anak-anak sudah berharap, kita dapat bus dengan air kondisioner, yang bisaa dipake tidur sambil ngiler. 
Tapi, semua harapan ternyata hanya hampa belaka. Keinginan kita untuk terlelap dalam buaian hawa nan sejuk, harus diganti dengan tonjokan angin malam yang menerjang tanpa amun dari jendela bus yang sebenarnya sudah layak dimasukkan ke Muri (Museum Rombeng Indonesia. hehehe...). Ya, bus patas yang kami dambakan dan inginkan ternyata sudah habis. ''Wah, Nar, bus patasnya sudah habis. Terpaksa kita naik yang biasa aja,'' keluh Ernest, wartawan JTV yang potongan rambutnya mirip Ariel Peterpan yang baru dicukur di tempat penjagalan hewan. Permukaan bangkunya yang berlobang di sana sini dengan busa berlompatan, aku langsung membayangkan perjalanan brutal nan panjang dan melelahkan. Kami tunggu kira-kira satu jam, setelah sekitar seratus pedagang buah, pengamen, tukang jual korek, dan anak gawang (lho, kok yang ini ikutan juga) berseliweran di koridor bus yang kira-kira lebarnya hanya setengah meter, akhirnya pak sopir duduk manis di kokpit dan siap lepas amblas. 
Ohiya, sebelum bus meluncur di orbitnya, Ernest masih sempat membeli sesuatu untuk oleh-oleh keponakannya yang baru masuk playgroup. dan, itu adalah, pisau yang katanya stainless steel mbikinan njepang, yang sebilah harganya dua rebu maratus. Memang, dia adalah om yang sangat prhatian akan keselamatan keponakannya yang suka pake pake pita itu.
Akhirnya petualangan bagaikan cowboy di alam barat nan liar kami mulai dari sini. awalnya, bus melaju dengan kecepatan manis manja bin ajaib. Kami yang berimpitan di bangku belakang tetap tenang. Tapi, kekuatan sejati bus itu baru tampak ketika sudah melaju di jalanan luar Kota Pahlawan. Sang sopir dengan sadis memerkosa kemudi dan menggencet pedal gas sampai mentok. Dengan suspensi yang superduper keras. Kami serasa di banting tanpa kasih sayang ke sana kemari. Tapi, kantuk juga yang akhirnya memaksa kami berkompromi dengan kemalangan di malam minggu ini. rasa kebelet pipis pun diam-diam terbang berganti dengan bayangan buaian mimpi. fotograferku, angger, alih-alih tersiksa tidur dengan kepala miring, malah langsung ngorok begitu pak sopir menjalankan bus. 
Mungkin, sopir bus ini mantan pembalap jalanan yang berjiwa seorang pembom berani mati. dia melajukan bus secepat kilat ekspres. Nyalinya juga top. Biar bawa bus yang guede, dia berani lo main salip sana sini, tanpa peduli keselamatan penumpang. Berkat penampilan sang sopir yang sangat cekatan di belakang kemudi, Surabaya-kudus hanya dijelajahi dalam waktu 5 jam saja. Kami diturunkan di depan terminal Kudus jam 6 pas. Dengan mata berkaca-kaca, dan tampang trendi, kami terbengong-bengong di depan terminal. Kami tak tahu harus kemana, karena memang tak ada arah yang dituju. Penderitaanku, trasa lebih menyiksa daripada anak-anak lainnya. HIV (hasrat ingin vivis) yang sudah bergejolak di dalam jiwa belum bisa tersalurkan. Apesnya lagi, kamar mandi di dalam terminal masih dikunci. Akhirnya, dengan keberanian yang tinggi, aku pun pipis di udara terbuka, di mana dedaunan menjadi alasnya. 
dEngan informasi secukupnya, akhirnya kami berjalan kaki menuju hotel tempat persebaya menginap. begitu indah rasanya perjalanan pagi itu, dengan punggung pegal dan mata merah yang berair menyertainya. hiks...hiks... Sampai di hotel, ternyata, kamar sudah penuh. Jadilah, kami gelandangan di kota kretek ini. beruntung cak mat mau menampung kami, dan akhirnya dipindah ke kamar manajer persebaya. kini biarkan kami tidur pulas sebelum kembali menghadapi cobaa hidup. But it;s ok cause we're bonek journalist... 

Rabu, 15 Oktober 2008

About President of USA


Keajaiban Statistik Presiden Amerika Serikat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dari daftar seluruh Presiden Amerika Serikat ada keajaiban statistik khususnya mereka yang mengalami nasib buruk ketika memegang jabatan.

Perhatikan bila seorang Presiden terpilih dengan tahun yang berakhir dengan 0. Juga perhatikan perbedaan tahun pengangkatan diantara mereka adalah 20 tahun.

1840: William Henry Harrison (meninggal di masa jabatan)
1860: Abraham Lincoln (terbunuh di masa jabatan)
1880: James A. Garfield (terbunuh di masa jabatan)
1900: William McKinley (terbunuh di masa jabatan)
1920: Warren G. Harding (meninggal di masa jabatan)
1940: Franklin D. Roosevelt (meninggal di masa jabatan)
1960: John F. Kennedy (terbunuh di masa jabatan)
1980: Ronald Reagan (mengalami percobaan pembunuhan di masa jabatan)

[sunting] Persamaan yang janggal antara Presiden Lincoln dan Kennedy
Abraham Lincoln terpilih ke Kongres di tahun 1846.
John F. Kennedy terpilih ke Kongres di tahun 1946.
Abraham Lincoln terpilih sebagai Presiden di tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih sebagai Presiden di tahun 1960.
Kedua-duanya adalah pejuang hak-hak sipil.
Kedua-duanya tertembak pada hari Jum'at.
Kedua-duanya tertembak di kepala.
Sekertaris Presiden Lincoln bernama Kennedy.
Sekertaris presiden Kennedy bernama Lincoln
Kedua Presiden terbunuh oleh orang yang berasal dari Selatan.
Kedua Presiden digantikan oleh orang dari Selatan yang sama-sama bernama Johnson.
Andrew Johnson, yang menggantikan Lincoln, lahir di tahun 1808.
Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir di tahun 1908.
John Wilkes Booth, yang membunuh Lincoln, lahir di tahun 1839.
Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir di tahun 1938.
Kedua pembunuh mempunyai nama berisi 15 huruf.
Lincoln tertembak di teater bernama Ford.
Kennedy tertembak di dalam mobil bermerk 'Lincoln' dibuat oleh pabrik Ford.
Booth dan Oswald terbunuh sebelum masuk pengadilan.
Satu minggu sebelum Lincoln tertembak, ia berada di Monroe, Maryland.
Satu minggu sebelum Kennedy tertembak, dia bersama Marilyn Monroe.